Cara Delevingne Bawa Unsur Maskulinitas pada Busana Wanita
Cara Delevingne bawa unsur maskulinitas pada busana wanita dengan cara yang tidak selalu terlihat kaku atau formal. Model dan aktris asal Inggris ini justru sering mengolah pakaian dengan potongan tegas menjadi tampilan yang santai, modern, bahkan sedikit rebel. Karena itu, gaya berbusananya menarik bukan sekadar karena pilihan merek atau harga pakaian, melainkan karena cara ia menggabungkan struktur maskulin dengan karakter personal yang kuat.
Cara Delevingne Bawa Unsur Maskulinitas pada Busana Wanita melalui Tailoring
Salah satu ciri paling mudah dikenali dari gaya Delevingne adalah ketertarikannya pada tailoring. Jas, blazer, celana berpotongan lurus, hingga setelan tiga potong beberapa kali muncul dalam penampilannya. Pada 2017, misalnya, ia mengenakan rancangan Alexander Wang yang mengambil bentuk setelan klasik dengan jaket double-breasted berukuran oversized, celana slim, dan atasan tanpa kerah tradisional. (British Vogue)
Namun, ia tidak sekadar mengenakan setelan pria lalu mengganti ukurannya agar sesuai dengan tubuh perempuan. Justru, Delevingne memainkan kontras antara struktur pakaian dan elemen lain dalam penampilan. Jaket yang tegas dapat dipadukan dengan kaki yang terlihat lebih ramping, aksesori yang mencolok, atau rambut dengan karakter kuat. Dengan begitu, pakaian tersebut tidak kehilangan kesan feminin, tetapi juga tidak terjebak pada formula busana wanita yang terlalu konvensional.
Blazer Oversized Menjadi Elemen Penting dalam Gaya Delevingne
Blazer berukuran besar mempunyai kemampuan untuk mengubah proporsi tubuh secara langsung. Bahu yang lebih lebar menciptakan siluet kuat, sedangkan panjang jaket dapat memberikan kesan santai sekaligus berwibawa. Pada penampilannya untuk photocall film Valerian di London pada 2017, Delevingne mengenakan jaket oversized Alexander Wang di atas kombinasi leggings berpinggang tinggi dan minidress yang serasi. (Vogue)
Menariknya, perpaduan tersebut menunjukkan bahwa unsur maskulin tidak harus muncul dalam satu setelan lengkap. Sebuah blazer saja sudah cukup untuk mengubah karakter keseluruhan pakaian. Terlebih lagi, ketika blazer dibuat lebih longgar daripada ukuran tubuh, hasil akhirnya terasa seperti mengambil inspirasi dari lemari pakaian pria tanpa benar-benar meniru pakaian pria secara utuh.
Tuxedo Tidak Lagi Terlihat Terlalu Formal
Tuxedo merupakan salah satu pakaian yang secara historis sangat dekat dengan pakaian formal pria. Akan tetapi, dalam mode kontemporer, pakaian tersebut sudah lama digunakan untuk menciptakan tampilan perempuan yang kuat. Delevingne termasuk figur yang membantu membuat pendekatan tersebut terlihat natural, terutama ketika ia mengenakan tuxedo dengan sikap yang santai dan tidak terlalu terpaku pada aturan pakaian formal.
British Vogue bahkan pernah menyoroti penampilannya ketika mengenakan tuxedo dan top hat pada pernikahan kerajaan Putri Eugenie. Penampilan tersebut kemudian digunakan sebagai contoh bagaimana tailoring dapat mengubah cara perempuan memakai pakaian yang memiliki kode berpakaian tradisional maskulin. (British Vogue)
Cara Delevingne Bawa Unsur Maskulinitas pada Busana Wanita lewat Celana Berpotongan Tegas
Celana juga menjadi bagian penting dari pendekatan tersebut. Alih-alih selalu menggunakan bawahan yang mengikuti bentuk tubuh, Delevingne beberapa kali memilih celana dengan garis potongan yang lebih sederhana dan tegas. Celana semacam ini memberikan ruang visual yang berbeda karena fokusnya berada pada bentuk pakaian, bukan hanya pada siluet tubuh pemakainya.
Pada setelan Alexander Wang yang dikenakannya di London, misalnya, celana slim dipadukan dengan jaket double-breasted yang lebih besar. (British Vogue) Kontras antara bagian atas yang bervolume dan bagian bawah yang lebih ramping membuat penampilan terlihat seimbang. Hasilnya pun terasa modern tanpa perlu menggunakan banyak ornamen.
Unsur Maskulin Tidak Berarti Harus Menghilangkan Sisi Feminin
Kesalahan yang cukup sering terjadi ketika membicarakan busana maskulin adalah menganggap bahwa tampilan harus sepenuhnya terlihat seperti pakaian pria. Padahal, pendekatan Delevingne justru menunjukkan sebaliknya. Sebuah jas dapat terlihat maskulin karena bahunya, bahan, kerah, atau konstruksinya, sementara pakaian di bawahnya tetap mempunyai karakter feminin.
Hal tersebut terlihat dalam sejumlah penampilan yang menggabungkan tailoring dengan atasan lebih terbuka atau siluet yang lebih pendek. Who What Wear juga mencatat bahwa gaya pesta Delevingne pernah berkembang dari setelan tuxedo yang rapi menuju kombinasi dengan elemen lebih berani, termasuk atasan transparan atau bahkan tanpa lapisan atasan yang terlihat di bawah jas. (Who What Wear) Jadi, kekuatan gaya tersebut sebenarnya berada pada keseimbangan, bukan pada dominasi satu sisi.
Kontras Menjadi Rahasia Gaya yang Terlihat Menarik
Delevingne cukup sering menggunakan prinsip kontras dalam berpakaian. Pakaian dengan struktur keras dapat dipasangkan dengan material yang lebih ringan. Potongan oversized dapat ditemani bagian pakaian yang lebih mengikuti bentuk tubuh. Sementara itu, warna gelap atau netral dapat memperoleh karakter baru melalui aksesori atau detail yang lebih mencolok.
Pendekatan seperti ini membuat busana tidak terlihat seperti kostum. Sebab, ketika semua unsur dibuat maskulin secara bersamaan, penampilan bisa terasa terlalu literal. Sebaliknya, ketika hanya beberapa elemen yang dipilih, inspirasi tersebut menjadi lebih halus dan mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Cara Delevingne Menggunakan Detail Kecil untuk Mengubah Karakter Setelan
Detail kecil juga memainkan peran besar. Pada salah satu penampilannya di London Fashion Week 2014, Delevingne mengenakan setelan berwarna gelap dengan sentuhan sporty, pocket square, tas color-block, sneakers, kalung berlapis, dan riasan bibir yang kuat. Vogue menggambarkan kombinasi tersebut sebagai pendekatan yang memberikan sentuhan sporty dan sensual pada setelan ramping. (Vogue)
Di sini terlihat bahwa unsur maskulin sebenarnya dapat dipertahankan tanpa membuat pakaian kehilangan energi. Sneakers, misalnya, mengurangi kesan terlalu formal. Sebaliknya, aksesori dan riasan memberikan karakter personal sehingga setelan tidak terlihat seperti pakaian kantor biasa. Dengan demikian, satu pakaian bisa mempunyai beberapa identitas sekaligus.
Warna Gelap Membantu Membangun Kesan Tegas
Pilihan warna juga berpengaruh terhadap persepsi sebuah pakaian. Hitam, navy, abu-abu, dan warna gelap lainnya sering dikaitkan dengan tailoring klasik karena banyak digunakan dalam setelan formal. Delevingne cukup sering memanfaatkan palet seperti ini untuk menciptakan tampilan yang terlihat tajam.
Namun, warna gelap bukan berarti penampilannya selalu serius. Justru, ia sering mengimbanginya dengan potongan yang tidak biasa, aksesori, atau styling rambut. Karena itu, warna hanya menjadi fondasi, sementara karakter akhir ditentukan oleh keseluruhan kombinasi.
Cara Delevingne Bawa Unsur Maskulinitas pada Busana Wanita: Topi dan Aksesori Membuat Referensi Pakaian Pria Lebih Terlihat
Aksesori tertentu dapat memperkuat hubungan antara sebuah pakaian dengan tradisi menswear. Topi fedora, pocket square, dasi, sepatu model klasik, atau kacamata berbingkai tegas, misalnya, dapat langsung mengubah suasana sebuah outfit. Delevingne pernah menggunakan top hat bersama tuxedo, sebuah kombinasi yang membuat referensi pakaian formal pria menjadi sangat jelas. (British Vogue)
Meski begitu, aksesori tersebut tidak harus digunakan sekaligus. Justru, memilih satu atau dua elemen sudah cukup untuk memberikan arah tertentu. Pendekatan ini membuat gaya lebih mudah diterapkan karena tidak mengharuskan seseorang mengubah seluruh isi lemari.
Rambut Juga Menjadi Bagian dari Bahasa Busana
Dalam gaya Delevingne, pakaian tidak berdiri sendiri. Rambut dan penampilan keseluruhan ikut memengaruhi bagaimana busana diterima secara visual. British Vogue pernah menyoroti perubahan gaya Delevingne setelah rambutnya dipotong sangat pendek dan kemudian berwarna terang pada periode promosi Valerian. (British Vogue)
Penata gayanya juga menjelaskan kepada Vogue bahwa perubahan rambut tersebut membuka kemungkinan untuk mencoba penampilan yang sebelumnya mungkin tidak dipilih. (Vogue) Ini menarik karena menunjukkan bahwa gaya maskulin bukan hanya persoalan jas atau celana. Potongan rambut, riasan, sepatu, bahkan sikap ketika mengenakan pakaian dapat menentukan kesan akhir.
Pendekatan Delevingne Berkaitan dengan Perubahan Cara Melihat Gender dalam Fashion
Ada alasan mengapa gaya seperti ini semakin mudah ditemukan dalam industri mode. Batas antara pakaian pria dan wanita memang semakin fleksibel dalam beberapa tahun terakhir. Desainer dan rumah mode semakin sering menghadirkan koleksi yang mempertanyakan pembagian pakaian berdasarkan gender.
Delevingne sendiri pernah terlibat langsung dalam pendekatan tersebut. Pada 2022, koleksi Cara Loves Karl bersama Karl Lagerfeld dirancang dengan konsep genderless ready-to-wear. Koleksi tersebut menampilkan blazer, vest panjang, kemeja, serta aksesori dengan pendekatan yang memungkinkan pemakainya menyesuaikan pakaian berdasarkan gaya masing-masing. (Vogue)
Dari Panggung Mode ke Pakaian Sehari-hari
Hal yang membuat gaya Delevingne menarik adalah kemampuannya membawa elemen runway ke situasi yang lebih mudah dipahami. Tidak semua orang tentu membutuhkan tuxedo atau setelan couture. Namun, prinsip dasarnya dapat diterapkan menggunakan pakaian yang lebih sederhana.
Misalnya, blazer oversized dapat dikenakan bersama kaus polos dan jeans. Celana tailored bisa dipadukan dengan tank top dan sneakers. Bahkan, kemeja putih berukuran sedikit longgar sudah dapat memberikan kesan terstruktur apabila dipadukan dengan aksesori yang tepat. Dengan cara tersebut, inspirasi dari gaya Delevingne tidak harus menghasilkan penampilan yang terlalu formal.
Mengapa Gaya Ini Terlihat Tidak Lekang oleh Waktu
Tailoring mempunyai satu keunggulan yang membuatnya tetap relevan: struktur. Jaket dengan bahu tegas, celana lurus, dan kemeja klasik tidak terlalu bergantung pada tren musiman. Karena itu, pakaian tersebut dapat digunakan berulang kali dengan styling yang berbeda.
Selain itu, elemen maskulin menawarkan alternatif ketika seseorang bosan dengan pendekatan feminin yang terlalu dekoratif. Tidak semua busana harus menonjolkan lekuk tubuh, warna lembut, atau detail romantis. Kadang-kadang, garis sederhana dan potongan tegas justru menghasilkan tampilan yang lebih kuat.
Gaya Delevingne Lebih Banyak Berbicara tentang Individualitas
Pada akhirnya, daya tarik gaya Delevingne bukan hanya terletak pada kemampuannya mengenakan pakaian yang terinspirasi dari menswear. Yang lebih penting adalah keberaniannya menjadikan pakaian tersebut sebagai bagian dari identitas visualnya sendiri. Vogue pernah menggambarkan gayanya sebagai sangat khas dan memiliki sudut pandang yang berbeda, bahkan sejak awal kariernya di dunia mode. (Vogue)
Pendekatan tersebut juga terlihat dari perkembangan pilihan busananya. Dalam wawancara British Vogue pada 2026 mengenai koleksi terbarunya bersama Topshop, Delevingne mengatakan bahwa ketika sedang sendirian ia cenderung berpakaian seperti anak laki-laki berusia 15 tahun, sementara di ruang publik ia semakin menikmati kesempatan untuk bereksperimen dengan pakaian yang sebelumnya tidak ia kenakan. (British Vogue) Pernyataan itu memperlihatkan bahwa gaya personal tidak harus konsisten dalam satu bentuk. Sebaliknya, seseorang dapat berpindah antara pakaian yang maskulin, feminin, santai, formal, atau eksperimental sesuai suasana dan kebutuhan.
Kesimpulan
Gaya Delevingne memperlihatkan bahwa unsur maskulinitas dalam busana wanita tidak harus diterjemahkan sebagai penampilan yang keras atau kehilangan sisi feminin. Tailoring, blazer oversized, tuxedo, celana berpotongan tegas, warna gelap, dan aksesori klasik memang menjadi fondasi penting. Namun, karakter akhirnya justru muncul dari cara semua elemen tersebut dipadukan.
Karena itu, kekuatan pendekatan ini terletak pada kebebasan mengolah pakaian. Sebuah blazer pria tidak harus dipakai bersama celana formal. Tuxedo juga tidak selalu membutuhkan sepatu formal. Bahkan, kemeja oversized dapat terlihat berbeda hanya dengan mengganti bawahan dan aksesori. Melalui permainan proporsi dan kontras tersebut, pakaian yang memiliki sejarah kuat dalam menswear dapat menjadi bagian alami dari gaya perempuan modern.
Pada akhirnya, kontribusi Delevingne terhadap gaya ini bukan sekadar memperlihatkan bahwa perempuan dapat mengenakan setelan. Ia menunjukkan bahwa pakaian tidak harus tunduk pada batasan lama mengenai siapa yang seharusnya mengenakan bentuk tertentu. Itulah yang membuat gaya tersebut tetap menarik: strukturnya kuat, tetapi cara memakainya tetap bebas.

