Anya Taylor-Joy: Aktris Berbakat dengan Gaya Unik
Anya Taylor-Joy lahir di Miami, Florida, pada 16 April 1996. Ia tumbuh dalam lingkungan multikultural karena keluarganya memiliki latar belakang Argentina, Inggris, Skotlandia, dan Spanyol. Masa kecilnya banyak dihabiskan di Buenos Aires dan London, sehingga pengalaman hidupnya sejak awal sudah bersinggungan dengan beberapa bahasa dan budaya. Menariknya, sebelum serius mengejar akting, ia juga pernah menjalani latihan sebagai penari.
Ketertarikannya pada dunia hiburan kemudian berkembang ketika ia masih remaja. Pada usia 16 tahun, ia meninggalkan sekolah untuk mengejar karier sebagai aktris. Langkah tersebut akhirnya membawanya ke sejumlah peran kecil sebelum memperoleh kesempatan yang lebih besar. Debut filmnya dalam The Witch pada 2015 menjadi salah satu titik penting karena film tersebut memperkenalkan kemampuan aktingnya kepada penonton yang lebih luas. (Golden Globes)
Anya Taylor-Joy dan Peran yang Mengubah Karier
Setelah The Witch, kariernya berkembang melalui sejumlah film dengan karakter yang cukup beragam. Ia tampil dalam Split sebagai Casey Cooke, kemudian bermain dalam Thoroughbreds dan sejumlah produksi lainnya. Peran-peran tersebut memperlihatkan bahwa ia tidak hanya mengandalkan penampilan visual, tetapi juga mampu membawa karakter dengan sisi emosional yang kompleks. Pilihan proyeknya pun perlahan menunjukkan kecenderungan untuk mengambil tokoh yang memiliki konflik batin kuat.
Pada 2020, ia tampil sebagai Emma Woodhouse dalam Emma., adaptasi dari novel Jane Austen. Karakter tersebut membutuhkan pendekatan berbeda karena Emma merupakan sosok percaya diri, cerdas, sekaligus sering salah memahami perasaan orang lain. Tidak lama kemudian, namanya semakin dikenal melalui The Queen’s Gambit. Dua proyek tersebut bahkan membawanya memperoleh nominasi Golden Globe pada tahun yang sama. (Golden Globes)
Anya Taylor-Joy dalam The Queen’s Gambit
The Queen’s Gambit menjadi salah satu karya paling menentukan dalam perjalanan kariernya. Dalam serial terbatas Netflix tersebut, ia memerankan Beth Harmon, seorang anak yatim yang memiliki bakat luar biasa dalam permainan catur. Karakter ini bukan sekadar digambarkan sebagai sosok jenius, karena kehidupannya juga dipenuhi persoalan kecanduan, kesepian, kehilangan, dan pencarian identitas. Karena itu, perannya membutuhkan perubahan emosi yang cukup halus dari satu episode ke episode berikutnya. (Television Academy)
Persiapan untuk karakter tersebut juga tidak sederhana. Ia mempelajari dasar-dasar catur serta gerakan yang diperlukan agar pertandingan dalam serial terlihat meyakinkan. Selain itu, koreografi pertandingan harus dibuat sedemikian rupa sehingga permainan terasa seperti bagian alami dari cerita, bukan sekadar hiasan visual. Penampilannya sebagai Beth Harmon kemudian memperoleh Golden Globe untuk kategori aktris dalam serial terbatas atau film televisi pada 2021, sementara ia juga mendapat nominasi Emmy untuk peran yang sama. (Golden Globes)
Keberhasilan tersebut menarik karena karakter Beth tidak dibangun melalui dialog yang selalu panjang. Banyak bagian penting justru bergantung pada ekspresi wajah, tatapan, gestur kecil, dan perubahan sikap. Pendekatan seperti itu membuat penonton dapat memahami kondisi emosional karakter tanpa harus selalu dijelaskan secara langsung. Dengan demikian, kekuatan aktingnya terlihat bukan hanya ketika karakter berbicara, tetapi juga ketika ia harus bereaksi dalam keheningan.
Anya Taylor-Joy dalam Film dengan Karakter Berbeda
Sesudah kesuksesan serial tersebut, ia tetap mengambil proyek dengan karakter dan genre yang beragam. Dalam Last Night in Soho karya Edgar Wright, misalnya, ia tampil sebagai Sandy, penyanyi muda yang memiliki hubungan penting dengan perjalanan karakter utama. Film tersebut menggabungkan drama psikologis, horor, musik, dan nuansa London era 1960-an. Pengalaman tersebut sekaligus memperlihatkan kemampuannya bekerja dalam cerita yang sangat mengandalkan atmosfer visual.
Kemudian, ia tampil dalam The Northman dan The Menu. Film terakhir mempertemukannya dengan Ralph Fiennes dan Nicholas Hoult dalam cerita yang memadukan kuliner, satire sosial, serta thriller. Berbeda lagi dengan Furiosa: A Mad Max Saga pada 2024, ketika ia memainkan versi muda dari karakter Furiosa. Film tersebut menuntut performa fisik yang jauh lebih besar karena karakternya berada dalam dunia aksi dengan kendaraan, pertarungan, dan kondisi lingkungan yang keras. (Golden Globes)
Perbedaan tersebut menunjukkan pola menarik dalam pemilihan perannya. Ia tidak terpaku pada satu tipe karakter tertentu, meskipun beberapa tokoh yang dimainkan memang sama-sama memiliki sisi misterius atau kuat. Dari horor psikologis hingga drama periode dan film aksi, setiap proyek memberinya ruang untuk membangun persona yang berbeda. Justru variasi inilah yang membuat perjalanan kariernya tidak mudah ditempatkan hanya dalam satu genre.
Kemampuan Membawa Karakter yang Khas
Salah satu ciri yang sering terlihat dari penampilannya adalah kemampuannya menggunakan ekspresi secara intens tanpa harus berlebihan. Tatapan mata menjadi salah satu elemen yang kuat dalam banyak adegannya. Hal tersebut sangat membantu ketika ia memerankan karakter yang sulit ditebak atau tidak banyak mengungkapkan perasaannya secara verbal. Akibatnya, karakter yang dimainkan sering memiliki kesan tersendiri bahkan ketika dialognya tidak dominan.
Selain itu, pengalaman hidup di beberapa lingkungan budaya membuat kemampuan adaptasinya terhadap aksen dan karakter menjadi bagian menarik dari pekerjaannya. Ia juga dikenal memiliki hubungan yang cukup kuat dengan dunia fashion dan sinema. Dalam beberapa kesempatan, pilihan busana yang dikenakannya bahkan disesuaikan dengan karakter, suasana film, atau tema acara yang dihadirinya. Hubungan antara akting dan visual tersebut menjadi salah satu aspek yang semakin memperkuat identitas publiknya.
Anya Taylor-Joy dan Hubungannya dengan Dunia Fashion
Di luar layar, ia dikenal memiliki pendekatan fashion yang cukup berani. Ia resmi menjadi global brand ambassador Dior untuk fashion dan makeup pada 2021. Sejak saat itu, banyak penampilannya di karpet merah berkaitan dengan rumah mode tersebut, meskipun ia juga menggunakan karya dari berbagai desainer lainnya. (Vogue)
Gaya yang ditampilkan juga tidak selalu mengikuti satu formula. Dalam beberapa kesempatan, ia memilih siluet feminin dengan material berkilau, sedangkan pada kesempatan lain ia menggunakan potongan yang lebih tajam, transparan, atau eksperimental. Vogue mencatat bahwa penampilannya berkembang dari nuansa retro glamour menuju kombinasi yang lebih berani dan tidak biasa. Kolaborasinya dengan stylist Law Roach juga menjadi bagian dari perubahan tersebut. (Vogue)
Salah satu karakteristik yang menarik adalah keberaniannya menggabungkan elemen lama dan baru. Ia diketahui menyukai pakaian vintage dan pernah mencari barang vintage di Portobello Market, London. Ketertarikannya bukan hanya pada bentuk pakaian, tetapi juga sejarah yang melekat pada benda tersebut. Karena itu, pilihan busananya sering terasa seperti memiliki narasi tersendiri, bukan sekadar mengikuti tren yang sedang populer. (Vogue)
Gaya Klasik yang Tidak Kaku
Walaupun sering tampil dengan busana dramatis, ia juga mampu menggunakan pakaian bernuansa netral tanpa terlihat monoton. Salah satu contohnya adalah ketika ia mengenakan tampilan monokrom bernuansa taupe dengan atasan bertekstur, celana panjang, dan aksesori yang memberikan kontras. Pilihan tersebut memperlihatkan bahwa pakaian sederhana tetap dapat memiliki karakter melalui bahan, potongan, serta detail kecil. (Vogue)
Di sisi lain, ia juga cukup sering menggunakan elemen yang mengingatkan pada gaya era tertentu. Pita, cape, siluet feminin, riasan mata yang tegas, dan aksesori berukuran besar muncul dalam sejumlah penampilannya. Saat menghadiri Dior Spring 2026, misalnya, ia menggunakan cape bermotif houndstooth dan gaya rambut yang terinspirasi Catherine Deneuve. Ia sendiri menyebut ketertarikannya pada cape sebagai sesuatu yang bisa dikenakan bukan hanya untuk acara khusus. (Vogue)
Figur yang Memadukan Film dan Fashion
Hubungan antara film dan fashion dalam kariernya terasa cukup jelas. Kostum The Queen’s Gambit membantu membangun identitas Beth Harmon, sementara estetika Last Night in Soho memiliki keterkaitan erat dengan gaya London tahun 1960-an. Setelah itu, penampilannya di berbagai acara publik semakin memperlihatkan ketertarikannya terhadap pakaian dengan cerita visual yang kuat. Karena itulah, gaya busananya sering terasa seperti perpanjangan dari dunia sinema yang menjadi bidang utamanya.
Namun, gaya tersebut tidak selalu berarti mengenakan pakaian yang sangat mencolok. Ia dapat menggunakan warna netral, siluet sederhana, atau busana kasual, kemudian menambahkan satu elemen yang membuat keseluruhan penampilan terasa berbeda. Pendekatan tersebut terlihat dalam beberapa gaya off-duty yang memadukan kaus, jeans, jaket kulit, dan aksesori yang lebih eksperimental. Pada 2024, misalnya, ia terlihat menggunakan sepatu Maison Margiela Tabi dalam tampilan kasual. (Vogue)
Anya Taylor-Joy dalam Proyek Terbarunya
Perjalanan kariernya terus berkembang setelah kesuksesan Furiosa. Pada 2026, ia membintangi serial Lucky untuk Apple TV+, yang dirilis pada 15 Juli 2026. Ceritanya mengikuti seorang perempuan yang meninggalkan kehidupan kriminal masa lalu, tetapi harus kembali menghadapi sisi tersebut ketika berusaha melepaskan diri dari masa lalunya. Produksi ini mempertemukannya dengan pemeran seperti Annette Bening, Timothy Olyphant, dan Aunjanue Ellis-Taylor. (Apple)
Ia juga masih aktif dalam proyek film lain dan berbagai kegiatan promosi internasional. Aktivitas tersebut membuat kemunculannya di dunia fashion tetap berjalan beriringan dengan pekerjaannya sebagai aktris. Pada 2026, misalnya, Vogue menyoroti sejumlah pilihan busananya ketika mempromosikan Lucky, termasuk pakaian ringan yang disesuaikan dengan cuaca musim panas. Hal tersebut memperlihatkan bagaimana kegiatan promosi film sekarang juga menjadi ruang untuk menunjukkan perkembangan gaya personal. (Vogue)
Identitas sebagai Aktris Modern
Daya tarik kariernya tidak hanya berasal dari satu film atau satu karakter. Ia berkembang melalui kombinasi antara pemilihan peran, kemampuan membawa karakter, serta identitas visual yang semakin kuat. Dari karakter horor dalam The Witch, Emma Woodhouse, Beth Harmon, hingga Furiosa, masing-masing tokoh memiliki kebutuhan akting yang berbeda. Perbedaan tersebut membuat perjalanan kariernya terasa cukup beragam meskipun beberapa karakter memiliki aura misterius dan intens.
Pada akhirnya, kekuatan utama perjalanan tersebut terletak pada keberanian untuk berpindah dari satu dunia ke dunia lainnya. Ia dapat tampil dalam drama periode, horor, thriller, komedi gelap, film aksi, maupun serial kriminal. Sementara itu, di luar layar, ia membangun hubungan yang semakin erat dengan fashion melalui pilihan busana yang menggabungkan vintage, couture, detail feminin, dan sentuhan eksperimental. Perpaduan antara akting dan gaya visual inilah yang membuat sosoknya tetap mudah dikenali di tengah banyaknya bintang generasi baru.
Kesimpulannya, perjalanan karier Anya Taylor-Joy memperlihatkan bagaimana seorang aktris dapat membangun identitas tanpa harus terjebak dalam satu jenis karakter. Kemampuan berpindah genre membuat filmografinya terus berkembang, sedangkan ketertarikannya terhadap fashion memberikan dimensi lain di luar dunia akting. Dengan proyek baru yang terus hadir, termasuk Lucky pada 2026, perjalanan tersebut masih menunjukkan perkembangan yang menarik untuk diikuti.

