Evolusi Peran Model dalam 100 Tahun Terakhir
Selama satu abad terakhir, dunia mode telah mengalami perubahan besar dalam hampir setiap aspeknya—mulai dari cara berpakaian, standar kecantikan, hingga bagaimana manusia memandang tubuh dan identitas. Namun, di tengah semua itu, salah satu aspek yang paling mencolok adalah bagaimana posisi dan fungsi model dalam industri fashion terus berubah, evolusi peran model. Perjalanan yang awalnya hanya berfokus pada tampilan pakaian di atas panggung kini berkembang menjadi bagian penting dari budaya, politik, bahkan teknologi global.
Awal Abad ke-20: Model sebagai “Manekin Hidup”
Pada era awal 1900-an, konsep model masih sangat sederhana. Mereka disebut “manekin hidup” karena tugasnya hanyalah memamerkan busana rancangan rumah mode besar seperti House of Worth di Paris. Tidak ada sorotan individual terhadap orang di balik pakaian itu—semuanya berpusat pada rancangan dan keterampilan desainer. Model hanya menjadi medium, bukan subjek.
Bahkan, istilah “fashion model” belum populer. Model bekerja secara eksklusif untuk rumah mode tertentu, tampil di ruangan kecil dengan audiens terbatas yang terdiri dari bangsawan atau pelanggan kaya. Saat itu, modeling belum dianggap sebagai profesi yang glamor atau menguntungkan. Para model umumnya adalah perempuan muda dari kalangan bawah yang tertarik bekerja di dunia fashion, meskipun dengan upah kecil.
Namun, seiring berkembangnya fotografi pada 1920-an dan 1930-an, terjadi pergeseran besar. Muncul majalah seperti Vogue dan Harper’s Bazaar yang mulai menampilkan foto model mengenakan busana mewah. Model tidak lagi hanya berfungsi sebagai pajangan fisik; mereka mulai menjadi wajah yang mewakili gaya hidup dan estetika tertentu.
Evolusi Peran Model Era 1950-an: Lahirnya Figur Ikonik
Memasuki pertengahan abad ke-20, model mulai diidentifikasi dengan citra, kepribadian, dan gaya yang khas. Dunia mode mulai memahami bahwa daya tarik seseorang tidak hanya bergantung pada pakaian yang dikenakan, tetapi juga pada ekspresi dan karisma yang memancarkan keunikan.
Di sinilah figur legendaris seperti Dovima, Lisa Fonssagrives, dan Jean Patchett muncul. Mereka bukan sekadar model; mereka menjadi inspirasi. Peran mereka berubah drastis—dari pelengkap desain menjadi wajah utama kampanye mode. Di studio foto, mereka memiliki kebebasan lebih besar untuk berekspresi.
Era ini juga menjadi masa ketika fotografer seperti Richard Avedon dan Irving Penn mengangkat model menjadi subjek seni. Mereka tidak hanya mendokumentasikan pakaian, tetapi juga menggambarkan kepribadian model dalam setiap bidikan. Gaya elegan dan klasik mendominasi, menggambarkan kesan idealisme pascaperang yang penuh optimisme dan glamor.
1960-an hingga 1970-an: Revolusi dan Diversifikasi
Dunia fashion pada 1960-an mengguncang tatanan lama dengan munculnya budaya pop, feminisme, dan ekspresi kebebasan individu. Model tidak lagi harus menyesuaikan diri dengan standar aristokrat atau tampilan formal. London menjadi pusat revolusi mode, dan dunia mengenal nama Twiggy—seorang remaja dengan rambut pendek dan tubuh mungil yang mematahkan standar klasik kecantikan.
Twiggy menjadi simbol perubahan. Ia membuktikan bahwa daya tarik model tidak bergantung pada kesempurnaan tubuh, melainkan pada kepribadian yang autentik. Dari sinilah industri mulai membuka pintu bagi berbagai gaya, warna kulit, dan latar belakang sosial.
Dekade 1970-an memperluas transformasi itu dengan kemunculan model berkulit hitam seperti Beverly Johnson, yang menjadi model Afrika-Amerika pertama di sampul Vogue. Ini menandai langkah penting menuju inklusivitas, meskipun diskriminasi rasial masih kuat. Dunia mode mulai belajar bahwa representasi visual tidak bisa lagi satu warna atau satu bentuk saja.
Evolusi Peran Model 1980-an: Era Supermodel dan Komersialisasi
Jika ada masa di mana model benar-benar menjadi selebritas global, maka 1980-an adalah puncaknya. Dunia mengenal nama seperti Cindy Crawford, Naomi Campbell, Linda Evangelista, dan Christy Turlington. Mereka bukan hanya wajah kampanye mode, tetapi juga ikon budaya pop yang memiliki pengaruh besar terhadap industri hiburan, kecantikan, dan bahkan politik gaya hidup.
Mereka tampil di iklan, catwalk, televisi, dan film. Model kini menjadi merek itu sendiri. Bayaran mereka melambung, agensi besar bermunculan, dan dunia modeling menjadi impian banyak orang muda di seluruh dunia.
Namun, bersamaan dengan itu, muncul kritik terhadap tekanan standar tubuh ideal. Dunia mode mulai menciptakan citra yang hampir mustahil dicapai oleh kebanyakan orang. Tubuh kurus ekstrem, kulit tanpa cela, dan wajah simetris menjadi norma yang tidak realistis. Di balik gemerlapnya, banyak model menghadapi tekanan berat terkait citra diri, diet ekstrem, dan ekspektasi yang tinggi.
1990-an hingga 2000-an: Otentisitas dan Eksperimen
Ketika 1990-an tiba, dunia mode mulai bosan dengan kesempurnaan yang terlampau dibuat-buat. Generasi baru desainer seperti Alexander McQueen dan John Galliano membawa nuansa eksperimental, dramatis, dan emosional. Model pun mengikuti perubahan itu—mereka bukan lagi sekadar wajah cantik, melainkan perwujudan dari konsep artistik.
Muncul model dengan karakter kuat seperti Kate Moss, yang mempopulerkan tren heroin chic dengan tampilan natural, sedikit misterius, dan jauh dari glamor konvensional. Dunia mulai menilai bahwa kecantikan tidak bisa dipatok dari satu standar.
Pada awal 2000-an, internet dan media sosial mulai memengaruhi cara publik melihat model. Mereka kini dapat membangun persona sendiri, tidak harus menunggu diundang majalah atau rumah mode. Popularitas bukan lagi hasil pilihan segelintir editor, melainkan bisa muncul dari pengaruh digital yang menyebar cepat.
Evolusi Peran Model 2010-an: Era Digital dan Identitas
Transformasi paling besar dalam sejarah modeling terjadi ketika media sosial seperti Instagram dan YouTube membuka jalan bagi model independen. Tidak lagi harus bergantung pada agensi, mereka dapat membangun audiens sendiri, menampilkan gaya, kepribadian, dan pesan sosial yang mereka perjuangkan.
Model mulai dikenal bukan hanya karena wajah, tetapi juga karena suara dan nilai yang mereka bawa. Banyak di antara mereka yang berbicara soal isu penting seperti keberagaman tubuh, representasi gender, dan kesehatan mental. Industri pun beradaptasi, menampilkan model dengan berbagai ukuran, warna kulit, dan identitas gender.
Kampanye fashion besar seperti Dove’s “Real Beauty” atau Savage x Fenty menunjukkan bagaimana masyarakat mulai menuntut realitas yang lebih jujur dalam representasi kecantikan.
2020-an: Teknologi, AI, dan Masa Depan Modeling
Dalam satu dekade terakhir, batas antara manusia dan teknologi semakin kabur. Muncul model digital seperti Lil Miquela dan Shudu Gram, yang seluruhnya dibuat dengan komputer. Mereka memiliki jutaan pengikut dan kontrak dengan merek ternama. Dunia mulai mempertanyakan—apakah model manusia akan digantikan oleh entitas virtual?
Namun, justru di tengah dominasi digital itu, model manusia semakin menonjol karena keaslian mereka. Publik kini lebih menghargai ekspresi emosional yang nyata, kepribadian yang hidup, dan pengalaman otentik yang tidak bisa direplikasi oleh algoritma.
Selain itu, teknologi seperti augmented reality (AR) dan virtual reality (VR) mengubah cara brand menampilkan koleksi. Model tidak harus hadir secara fisik untuk berjalan di runway; mereka bisa tampil dalam bentuk digital yang disiarkan secara global.
Kesimpulan: Dari Simbol Keheningan ke Suara yang Didengar
Selama 100 tahun, model telah berpindah dari peran pasif sebagai pemajang busana menjadi figur aktif yang menentukan arah industri mode. Mereka kini bukan hanya wajah, tetapi juga suara yang menyuarakan perubahan sosial, keberagaman, dan realitas manusia.
Evolusi ini menunjukkan bahwa modeling bukan sekadar tentang pakaian atau tubuh, melainkan tentang bagaimana manusia belajar mengekspresikan identitas dan emosi melalui visual. Dari ruang couture kecil di Paris hingga panggung digital global, peran model telah tumbuh seiring dengan perkembangan budaya dan teknologi. Dan meski masa depan mungkin akan melibatkan lebih banyak kecerdasan buatan, keberadaan model manusia tetap menjadi simbol dari sesuatu yang tidak bisa disintesis: keaslian dan rasa.

